Anggota DPRD Kab. Batanghari
Menyikapi Penomena Gerhana Sesuai dengan Ajaran Islam
Diposting Oleh Admin DPRD Kab. Batang Hari | Berita Umum | Kamis, 08 Maret 2016 - 09:11:25 WIB

dprd.batangharikab.go.id - Gerhana Matahari dalam istilah Rasulullah SAW  sering disebut kusuf. Kusuf berarti perubahan warna menjadi hitam. Gerhana matahari diartikan terhalanganya cahaya matahari, meskipun hanya sebagian.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan jika di sepanjang sejarah hidup Nabi Muḥammad SAW, terjadi sekurang-kurangnya enam kali peristiwa gerhana matahari.

Gerhana tersbut ada yangpenuh, separuh atau hanya seperti cincin. Pun demikian, yang paling banyak dikisahkan di dalam ḥadits ialah peristiwa gerhana cincin, yang terjadi pada hari kepergian puteranya, yakni Ibrahim bin Muḥammad anak dari istrinya asal Mesir Maryam al-Qibtiyyah. Peristiwa ini terjadi pada 27 Januari 632 M, di Madinah al-Munawwarah.

Kaum Muslimin menganggap peristiwa itu suatu mukjizat. Mereka menganggap gerhana matahari terjadi karena kematian Ibrahim. Hal ini terdengar oleh Nabi.

Kemudian Rasulullah SAW menemui kaum Muslimin dan menegaskan terjadinya gerhana matahari bukan karena kematian Ibrahim, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam kitab shahih Muslim Nomor 1522 :

Dari Al-Mughirah bin Syu’ban RA, berkata, Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari pada hari kematian Ibrahim. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana disebabkan kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, apabila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan tunaikan salat hingga matahari nampak kembali.

Gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana matahari adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala. keduanya terjadi bukan secara kebetualan apalagi dikaitakan kematian dan kelahiran seseorang, namun semua itu terjadi karena kehedak Allah dan semata-mata bagian dari Sunnah Kauniah yang merupakan ayat-ayat Allah di alam semesta.

Oleh karena itu, ketika terjadinya gerhana matahari total pada Rabu 9 Maret 2016 besok, sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini terjadi adalah takut dan hawatir namun tetap berpengharapan kepada Allah. Jangan mengingikuti kebiasaan orang-orang yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan tuntunan dan ajakan Nabi Saw ketika itu. Siapa tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiyamat. Nabi saw saja takut pada saat gerhana terjadi padahal kita semua tahu Nabi saw adalah hamba yang paling dincintai oleh Allah. Kalau Rasulullah saw saja sudah sangat takut ketika itu, lalu kenapa kita hanya melewati fenomena ini dengan perasaan biasa-biasa saja, tanpa mau meperhatikan dan menghiraukan tuntunan dan ajakan dari Rasulullah saw.

Mari kita renungkan sabda Nabi saw berikut ini :

Dari Abu Musa, ia berkata, “Terjadi gerhana pada masa Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. berdiri dengan teramat-tergesa-gesa karena takutakan terjadi kiamat. Maka beliau mendatangi mesjid, lalu beliau shalat …. Jika kalian melihat gerhana bersegeralah kepada zikir, do’a, dan memohon ampunan-Nya.” (Shahih al-Bukhari, I : 630, Shahaih Muslim, VI : 628)

Dalam riwayat lain … takala terjadi gerhana matahari di masa Nabi saw., beliau bangkit terkejut, takut terjadi kiyamat sampai beliau menuju mesjid. beliau melakukan shalat dengan ruku dan sujud yang lama sekali. Tidak pernah aku melihatnya melakukan seperti itu. Kemudian beliau bersabda, “sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kebesaran yang dikirimkan Allah, gerhana ini terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Allah yang mengirimkanya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu, bila kalian melihatnya, maka bersegeralah ingat kepada-Nya berdo’a dan mohon ampunan-Nya. (Shahih Muslim no. 1518)

Keterangan ini menegaskan bahwa Allah hendak meberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka takut dan berhenti melakukan maskiat, sebagaimana firman Allah SWT :

 “Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti” (Al-Isra’ : 59)

Oleh karena itulah, untuk menghilangkan rasa takut dan mendatangkan ketenangan, Rasulullah saw memerintahkan untuk segera pergi kemesjid, meperbanyak  do’a, bertakbir, beristigfar kemudian shalat dan bersodaqoh. (Admin)